Senin, 22 Maret 2010
TUGAS YOGA
Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia / microcosmos) dan Buwana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.
Makna Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka (Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa). Hari Nyepi ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.
Makna dari Nyepi adalah membuat suasana hening, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati geni), tidak keluar rumah (amati lelungaan), dan tanpa hiburan (amati lelanguan), yang dikenal dengan istilah “Catur Berata Penyepian”. Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mengadakan koreksi total pada diri sendiri, serta menilai pelaksanaan trikaya (kayika = perbuatan, wacika = perkataan, manacika = pikiran) di masa lampau, kemudian merencanakan trikaya parisudha (trikaya yang suci) di masa depan.
Tujuan Hari Raya Nyepi
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia) dan Buwana Agung (alam semesta). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang lebih besar.
Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan
Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat,mulai dari masing-masing keluarga,banjar,desa,kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.
Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.
Puncak acara Nyepi
Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.
Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.
Ngembak Geni (Ngembak Api)
Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain.
Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.
Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:
-Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).
- Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.
- Amati lelungan (tidak bepergian).
- Amati lelanguan (tidak mencari hiburan).
Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu.
Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.
Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.
PASURUAN, KOMPAS.com — Umat Hindu suku Tengger di kawasan Gunung Bromo Tosari, Pasuruan, Jawa Timur, mulai Kamis (26/3) pukul 00.00, menyambut tahun baru Saka 1931 dengan melaksanakan Yoga Samadhi Hari Suci Nyepi, yakni melaksanakan empat berata (catur berata).
Keempat catur berata yang wajib dilaksanakan itu meliputi amati geni (berpatang menyalakan api), upawasa (berpuasa), amati karya (berpantang melakukan aktivitas kerja), amati lelanguan (berpantangan menghibur diri dan tidak menikmati kesenangan), dan amati lelungan (berpantangan bepergian).
Dalam kesenyapan Hari Suci Nyepi itu, umat Hindu bermawas diri, menyatukan pikiran serta cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri dan inti sari kehidupan semesta.
Hari Raya Nyepi (Kajian Upācāra & Implementasi Pada Kehidupan)
12/03/2010 in Artikel
Hari Raya Nyepi
(Kajian Upācāra & Implementasi Pada Kehidupan)
Oleh : I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma P)
Oṁ Swastyastu
Pendahuluan
”Pada awalnya adalah kegelapan yang sangat pekat. Semua yang ada ini tidak terbatas dan
tidak dapat dibedakan. Yang ada saat itu adalah kekosongan dan tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang sangat dahsyat,terciptalah kesatuan yang kosong” (Ṛgveda X.129.3).
Kapanpun dan di manapun pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan Dharma merajalela, pada waktu itulah Aku Sendiri menjelma, wahai putra keluarga Bhārata (Bhagavadgītā 4.7).
Hari suci keagamaan selalu menempati posisi tersendiri dalam kehidupan manusia dan memiliki makna kesucian yang diorientasikan pada kesempurnaan dengan ajaran-ajaran kerohanian yang berasal dari wahyu Tuhan. Karena orientasi tersebut dimensi hari raya agama tersebut bersifat vertikal. Agama apapun mengajarkan satu kesunyataan yakni Kebenaran. Demikian halnya dengan agama Hindu yang memiliki hari raya keagamaan yang dikelompokkan berdasarkan sasih/bulan dan pawukon/wuku ke dalam dua kelompok besar, diantaranya adalah Nyepi, Galungan dan Kuningan, dan yang lainnya.
Hari Suci Nyepi
Hari Nyepi merupakan tonggak kebangkitan kerohanian Hindu yang ditandai dengan Toleransi dan Kerukunan. Bermula dari persaingan dan pertikaian bangsa-bangsa di kawasan Asia (sekarang antara: Tibet, Asia Tengah, Persia, Sungai Sindhu, Afganistan, Pakistan, Kashmir, Iran dan India Barat laut) antara bangsa Saka (Scythia) – Pahlava (Parthia)– Yueh-ci (Cina) – Yavana (Yunani) – Malava (India). Mereka sangat berambisi salin menaklukkan satu sama lain sebagai musuh-musuhnya. Selama berabad-abad bangsa-bangsa tadi silih berganti saling menguasai wilayah lawan-lawannya (semacam penguasaan/ penjajahan) memperebutkan daerah yang sangat subur. Akhirnya pada awal tahun 248 SM di India bangsa Pahlava unggul dalam peperangan melawan bangsa Yavana dan Saka serta menguasai wilayah yang sangat luas.
Bangsa Saka yang kalah perang mengembara dan mampu secara cepat menyesuaikan diri dan tersebar di seluruh kawasan, namun membawa satu misi kooperatif perdamaian dengan mengedepankan aspek budaya dan humanisme. Bangsa Saka dengan seni budaya dan kombinasi ketata negaraan yang terbuka (ala demokrasi sekarang) mampu menyentuh penguasa yakni Bangsa Pahlava. Artinya bangsa Pahlava mengakui keunggulan bangsa Saka yang mengalihkan perjuangan politiknya dari mengangkat senjata (peperangan) menjadi arah politik : ideology, social-budaya yang bercirikan keharmonisan – perdamaian dengan mengangkat kesejahteraan sebagai issue global. Pergerakan humanisme sejak tahun 138 – 12 SM terjadi akulturasi dan sinkretisme antara bangsa-bangsa yang tadinya bermusuhan dan berakhir pada peperangan menuju perdamaian.
Akibat gerakan kemanusiaan membuat sikap politik bangsa-bangsa tadi berubah menjadi gerakan Lokasamgraha (dunia ini rumah kita, persaudaraan semesta, Torang samua basudara). Terdapat tokoh raja Kaniska I, II dan III (tidak semuanya berasal dari bangsa Saka tapi mereka mengadopsi perjuangan bangsa Saka) dalam percaturan politik yang meraih simpati rakyat dengan gerakan kesejahteraan dan kemanusiaan tadi. Salah satu yang terkenal kemudian adalah raja Kaniska II yang pada tahun 78 Masehi menetapkan tahun baru sebagai pencerahan bangsa-bangsa yang berdamai dengan memberikan penghargaan kepada bangsa Saka yang memelopori pergerakan tadi menjadi Tahun Baru Saka yang diperingati secara serentak oleh seluruh negeri. Tahun itu dikemudian hari menjadi tahun pencerahan dan dirayakan dengan khidmat melalui tapa – brata – samadhi.
Rangkaian Hari Raya Nyepi.
Perayaan Hari suci Nyepi dan Tahun Baru Saka 1932 tahun 2010 di daerah secara otonom dilaksanakan dari tingkat Provinsi sampai tingkat Desa dan perorangan di rumah masing-masing dengan rangkaian sebagai berikut :
1. Melasti/Makiyis : adalah prosesi spiritual keagamaan sebagai upaya penyucian alam semesta dari segala kekotoran dan kejahatan akibat dari perputaran karma selama 1 tahun yang penuh dengan intrik, gejolak, nafsu, dan berbagai sisi negative terhadap kemanusiaan. Penyucian ini tidak berhenti pada tataran alam semesta, tetapi juga pada diri setiap manusia Hindu, harus menyucikan diri dan lingkungannya. Arah prosesi penyucian itu ditujukan kea rah laut/segara, karena diyakini air bersumber di laut dan air merupakan sumber dari kehidupan. 80 % tubuh kita ini terdiri dari air. Pelaksanaan prosesi ini dilaksanakan sejak seminggu sebelum hari raya nyepi atau maksimal 2 hari sebelum Nyepi. Di dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan: angayutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuvana, yang terjemahannya: untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dan kotoran dunia ( alam ), sedangkan di dalam lontar Sundarigama dinyataan : amet sarining amrtha kamandalu ritelenging samudra, yang terjemahannya : Untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah – tengah lautan. Laut sebagai sumber amerta karena laut/segara dipercaya dan diyakini mampu melebur segala kekotoran yang diakibatkan oleh api nafsu manusia yang berupa tindakan kotor/jahat dll.
2. Tawur Kesanga : adalah upacara Bhuta Yajna, artinya korban suci yang ditujukan kepada penguasa kekuatan yang memberi kemanfaatan bagi seisi alam raya ini berupa Caru. Caru adalah kata bahasa Sanskerta yang berarti mempercantik, menetralisir, memiliki makna spiritual somya yakni membuat semuanya menjadi harmonis. Caru ini berupa sesajen yang dibuat sedemikian rupa dalam rangkaian yang memiliki perhitungan magis, oleh Pendeta dijadikan sebagai sarana untuk menjadikan situasi krodit/disharmoni menjadi normal/harmonis kembali. Tawur kesanga dilaksanakan sehari sebelum Nyepi tepatnya pada bulan Mati/Tilem sasih Kesanga yang jatuh pada tanggal 15 Maret 2010.
3. Nyepi – Brata Penyepian : pada tanggal 16 Maret 2010 adalah hari raya Nyepi yang dilaksanakan perayaannya dengan berpuasa dan berpantang/brata. Dimulai pagi hari jam 06.00. Di antara berbagai bentuk Tapa, Brata, Yoga, Samadi itu, Maunabrata (Monabrata) adalah yang tertinggi, tujuannya adalah amatitis kasunyatan, menuju keheningan sejatai seperti pula disebutkan di dalam lontar Sundarigama (salah satu lontar yang menjelaskan tentang hari-hari raya Hindu di Indonesia) secara tegas menyatakan: “………………Nyepi amatigni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, agnigni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang weruh ring tattwa angelaraken samadhi. tapa, yoga amatitis kasunyatan” – Hari Nyepi, tidak benar semua orang melakukan pekerjaan, berapi – api, karena mereka yang tahu hakekat agama melaksanakan samadhi,tapa,yoga memusatkan pikiran menuju kesunyataan/keheningan sejati”. Brata Penyepian, dengan amati : gni, karya, lelungan, lelangunan, membuat hidup ini terintrospeksi secara sadar atas apa dan siapa diri ini untuk menuju arah yang ditentukan oleh ajaran agama. Selama 1 hari penuh (24 jam) aktivitas direorientasi guna memberikan pembaharuan (Reneweble) alam semesta sehingga segenap potensinya kembali berfungsi secara maksimal. Bayangkan kota Jakarta jika selama 1 hari tidak ditebari polutan asap kendaraan (polusi udara) dan listrik dipadamkan, aktivitas diliburkan sehari itu saja dalam setahun, berapa besar penghematan yang telah dilakukan oleh Negara, betapa bersihnya udara Jakarta dan kelesuan dapat dipulihkan.
4. Ngembak Gni : melakukan aktivitas kembali seperti semula atau membuka api kehidupan normal. Pada hari ini tgl 17 Maret 2010 menjadi lembaran baru bagi kehidupan yang cerah penuh pencerahan rohani. Ngembak Gni mengisyaratkan kepada manusia yang “Multikultural” untuk bersatu padu, menghargai perbedaan sebagai kebenaran illahi, memaafkan adalah perbuatan mulia yang akan membuat hidup kita terasa lebih damai. Melayani mereka yang lemah, membantu mereka yang menderita adalah karma utama saat ini, karena sesungguhnya melayani semua mahluk dengan cinta kasih, dan kasih sayang adalah bentuk pemujaan kepada Tuhan (serve to all man kind is serve to the God).
Makna Penjelmaan
Menjelma sebagai manusia menurut ajaran Hindu adalah kesempatan yang paling dan sangat baik, karena hanya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dengan jalan berbuat baik. Untuk berbuat baik dan benar nampaknya sangat sulit dilakukan oleh karena berbagai tantangan yang dihadapi oleh setiap orang. Tantangan mulai ketika bayi lahir dari kandungan ibunya. Demikian lahir langsung menangis karena ia berhadapan dengan kejamnya alam, udara yang dingin atau kilauannya sinar matahari dan lain-lain. Bayi akan tumbuh menjadi manusia dewasa bila ia mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Tantangan yang paling berat yang dihadapi oleh umat manusia adalah tantangan yang datang dalam dirinya sendiri, yakni sifat-sifat atau kecenderungan jahat yang merupakan sifat-sifat keraksasaan, kebalikan dari Daivisampad yang disebut Asurisampad (sifat-sifat Asura atau raksasa). Pertarungan antara sifat-sifat kedewataan dengan keraksasaaan inilah yang terus berlangsung dalam diri umat manusia yang sering mengejawantah dalam sikap dan prilaku sehari-hari. Pertarungan ini berlangsung terus tiada hentinya. Siapa yang berhasil memenangkan pertarungan dengan berpihak pada kebajikan atau (Dharma) ialah yang sesungguhnya berhasil menegakkan Dharma. Hanya dengan berpihak kepada Dharma seseorang akan memperoleh keselamatan, kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Sebagai diamanatkan dalam terjemahan sloka Māhanārayana Upaniad XXII.1, berikut:
“Dharmo viśvasya jagataḥ pratiṣṭhā, loke dharmiṣṭhaṁ prajā upasarpanti,Dharmeṇa pāpam apanudanti dharme sarvaṁ, pratiṣṭhaṁ tasmad dharmaṁ paramaṁ vadanti” – “Dharma adalah prinsip dasar dari segala sesuatu yang bergerak dan yang tidak bergerak di alam semesta ini. Seluruh dunia dan segenap umat manusia hendaknya selalu bergairah mengikuti ajaran Dharma. Yang mengikuti ajaran Dharma terbebas dari segala dosa. Segala sesuatunya akan berjalan mantap bila di jalan Dharma. Untuk itu patutlah Dharma itu disebut ajaran yang tertinggi”
“Dharma eva hato hanti dharmo rakṣati rakṣitaḥ, tasmād dharmo na hantavyo mābo dharmo hato’vadhīt” – “Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya. Dharma yang dilaksanakan melindungi pelaksananya, oleh karena itu janganlah melanggar Dharma, sebab bagi yang melanggar Dharma akan menghancurkan dirinya sendiri” (Manavadharmaśāstra VIII.15).
Implementasi Dalam Kehidupan
Bagaimana kita dapat memenangkan Dharma dalam era globalisasi? Globalisasi adalah proses atau trend kemajuan dunia melalui Ilmu Pengetatuhan dan Teknologi dengan ditandai oleh derasnya arus informasi, terutama dari masyarakat maju menuju masyarakat yang sedang berkembang. Dalam era globalisasi ini seakan-akan tidak ada batas-batas antar negara atau bangsa-bangsa (Boderless nations and states) di dunia ini. Kita maklumi bersama bahwa Globalisasi tidaklah selalu berpangaruh dan berdampak negatif, banyak hal-hal positif yang dapat dipetik dalam era globalisasi ini, namun demikian pengaruh dan dampak negatifnya nampaknya cenderung lebih deras terutama menyangkut segi-segi moral, etika dan spiritual yang bersumber pada nilai-nilai agama dan budaya bangsa.
Dalam Hindu, dinyatakan bahwa bila orientasi manusia hanya material dan kesenangan belaka, maka orang itu dinyatakan hanya memuaskan Kama (nafsu duniawi). Kama manusia tidak akan pernah merasa puas, walaupun usaha memuaskan itu dilakukan terus-menerus dengan berbagai pengorbanan. Memuaskan Kama dinyatakan sebagai menyiram api yang berkobar besar, tidak dengan air, melainkan dengan minyak tanah, maka api tersebut akan menghancurkan hidup manusia.Di dalam kitab suci Bhagavadgītā dinyatakan bahwa Kama, di samping juga Lobha dan Krodha adalah tiga pintu gerbang yang mengantarkan Ātma (roh) menuju jurang neraka dan kehancuran. Untuk itu, Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan agar umat manusia memilki kesadaran yang tinggi untuk menghindarkan diri dari ketiga belenggu tersebut.
Bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri tiga pintu gerbang neraf berupa Kama, Lobha dan Krodha yang merupakan perwujudan dari perbuatan atau perilaku Adharma ? Jawabannya adalah sederhana, yaitu kita mesti kembali kepada ajaran agama. Peganglah ajaran agama sebaik-baiknya. Biasakanlah berbuat baik dan benar atau berdasarkan Dharma, yang di dalam kitab Taittiriya Upaniṣad I.1.11: Satyaṁ vada Dharmācara svadhyaya mā pramadaḥ – Berbicaralah jujur/benar, ikutilah ajaran Dharma, kembangkan keingan belajar dan memuja Tuhan Yang Maha Esa dan janganlah lalai/sampai lupa.
Memang bila kita berbicara atau hanya membaca ajaran agama, nampaknya segala sesuatunya gampang dilaksanakan, namun dalam prakteknya sungguh berat. Untuk itu hendaknya ada tekad atau pemaksanaan untuk berbuat baik. Pemaksaan diri untuk selalu berbuat baik disebut Pratipaksa. Untuk kebaikan, paksakanlah, lakukankan, korbankanlah, tekunilah dan doronglah supaya perbuatan benar dan baik itu menjadi identitas kehidupan ini. Identitas atau integritas seseorang dapat dilihat dari kualitas pikiran, ucapan dan tingkah laku seseorang. Untuk selalu dapat berbuat baik, maka diajarkan bahwa setiap orang hendaknya melakukan 4 hal, yaitu:
1) Abhyasa yang artinya untuk perbuatan baik lakukanlah dan biasakanlah hal itu.
2) Tyāga atau Vairagya yang artinya kendalikanlah atau tinggalkanlah perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan hidup kita.
3) Santosa yang artinya beryukurlah terhadap karunia Tuhan Yang Maha Esa, memberikan kita kesempatan menjelma sebagai manusia untuk biasa memperbaiki diri dan kesadaran untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan kita untuk mencapai Jagadhita (kesejahtraan jasmaniah) dan Moksa (kebahagiaan sejati).
4) Sthitaprajña yang artinya hidup berkeseimbangan lahir dan batin, tidak terlalu bergembira bila memperoleh keberuntungan dan tidak putus asa bila menghadapi kemalangan atau kedukaan.
Hari-hari raya keagamaan akan berlalu begitu saja bila kita tidak menyingkapi makna atau nilai-nilai yang terkandung dalam hari-hari raya itu. Selanjutnya dengan pemahaman terhadap makna atau nilai-nilai itu, seseorang hendaknya dapat mengamalkan atau melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Nyepi adalah hari perjuangan menuju kesadaran terhadap ajaran Dharma. Hanya dengan Dharma umat manusia akan selamat di dunia ini. Bagaimana mengaktulisasikan ajaran Dharma ini ? Secara sederhana adalah dengan merealisasikan 7 macam perbuatan yang disebut Dharma seperti disebutkan dalam kitab Vṛhaspatitattva, yaitu:
1) Sila, yakni senantiasa berbuat baik dan benar.
2) Yajña, yakni ikhlas berkorban. Yajna tidaklah hanya terbatas pada pengertian upakara dan upācara saja, melainkan mengembangkan kasih sayang dan keikhlasan.
3) Tapa, pengekangan dan pengendalian diri.
4) Dana, memberikan pertolongan atau bantuan kepada yang miskin dan yang memerlukan bantuan. Dalam Hindu dinyatakan menolong orang-orang miskin disebutkan sebagai menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang ber-abhiseka (disebut dengan nama) Daridra Nārayana.
5) Pravrijya, berusaha menambah ilmu pengetahuan atau kerohanian (spiritual).
6) Dikṣa, penyucian diri dan
7) Yoga, senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Penutup
Dengan melaksanakan butir-butir perbuatan tersebut di atas sesungguhnya kita sudah dapat mengamalkan ajaran agama. Aktualisasi dari ajaran ini dikaitkan dengan masalah-masalah kekinian, misalnya dengan meningkatkan solidaritas sosial (kesetiakawanan sosial), membantu program pemerintah mengentaskan kemiskinan, mengembangkan moralitas dan mentalitas yang baik dan positif serta senantiasa aktif membangun masyarakat lingkungan di sekitar kita.
Berterima kasihlah kepada orang yang telah memberikan kesempatan berbuat baik, berbuat lebih baik dari tidak berbuat apa lagi berbuat yang tidak baik pasti menghasilkan ke-tidak-baik-an, sementara kita ingin mendapat perlakuan yang baik dari orang lain tetapi kita melupakan harus berbuat baik kepada orang lain. Kebaikan tidak pernah datang dengan sendirinya.
Lakukan kebenaran dengan cara menyenangkan, tapi jangan melakukan
ketidakbenaran walau itu menyenangkanmu
Pengertian Hari Raya Nyepi Umat Hindu
Diringkas oleh : I P Danan Krisnadi R
Sumber : Nyepi Caka 1910. penyebaran kator departemen agama jembrana, Doktik 8 Feb 88
Hari Raya Nyepi
Dengan brata penyepian manusia dapat mengendalikan musuh-musuh dalam dirinya,
sesuai dengan pedoman yang dikeluakan oleh Parisadha Hindu Dharma Pusat, umat hindu dalam
merayakan hari raya Nyepi yang sudah menjadi keputusan presiden No. 3 tahun 1983 bahwa hari
raya Nyepi semenjak pergantian tahun caka 1904 ke tahun caka 1905 menjadi hari libur nasional,
hari raya Nyepi terkenal dengan Catur Brata Penyepian
1. Amati Gni : tidak menyalakan api atau lampu
2. Amati Pekaryan : tidak melakukan suatu pekerjaan
3. Amati Lalanguan : tidak berhura-hura / bersenang- senang
4. Amati Lelungan : tidak berpergian
“Ragadi musuh maparo ri hati ya tonggwanya tan wadoh ring awak”
Yang artinya :
“Raga (Nafsu) adalah musuh utama, tidak jauh dari badan, dihati tempatnya.”
Disini semua brata penyepian itu kalau kita bias melaksanakan berarti kita sudah
mengekang nafsu, nafsu yang bersumber dari hati kita yang bersemayam pada Ctula Carira kita
masing-masing.
Musuh musuh dalam diri manusia
A, Sad Ripu
B, Sapta Timira
A. Sad Ripu
Setiap manusia pada dasarnya suci, karena atma yang menghidupi manusia itu berasal
dari yang maha suci yaitu Brahmnaatma, itu sebabnya setiap manusia nenginginkan
kesucian. Dari adanya keducian inilah maka manusia pada saat sadar dan menyadari
dirinya , ingin dia berbuat baik dan tidak dikatakan menjadi curang dan tidak baik.
Namun demikian oleh karena adanya misuh ada masing-masing manusia yang selalu dan
setiap saat timbul, bila kesadaran seorang menurun yang menmbulkan perbuatan yang
tidak baik, maka sangat perlu musuh musuh itu dikendalikan.
Musuh musuh yang terdiri dari 6 musuh yang terkenal dengan Sad Ripu adalah :
1. Kama artinya hawa nafsu
2. Loba artinya tamak / rakus
3. Krodha artinya kemarahan
4. Moha artinya kebingungan
5. Mada artinya mabuk / foya-foya
6. matsarya artinya iri hati.
1. Kama
Kama berarti hawa nafsu, hal ini ada pada setiap orang dan dapat menjadi musuh
setiap indifidu selama belum dapat dukuasainya kalau nafsu itu dapat dikendalikan
merupakan teman akrab bagi kehidupan manusia. Karena adanya kama hidup ini
terasa penuh berarti, orang yang telah meninggalkan kama dan terbebas dari kama
mereka adalah orang – orang yang telah banyak memenuhi hidup ini.
2. Lobha
Pengertian Hari Raya Nyepi Umat Hindu
Diringkas oleh : I P Danan Krisnadi R
Sumber : Nyepi Caka 1910. penyebaran kator departemen agama jembrana, Doktik 8 Feb 88
Loba atau tamak menyebabkan orang tak pernah merasa puas akan sesuatu, orang
yang loba ingin selalu memiliki sesuatu yang banyak dan lebih dari pada apa yang
telah dimiliki, akibatnya orang yang demikian itu akan gusar, gelisah – resah
didorong oleh kelobaanya dan hidupnya tak pernah tenang, sedangkan ketenangan
menjadi idaman bagi setiap orang itulah sebabnya loba itu adalah musuh yang setiap
saat harus disadari dan diawasi,.
3. Kroda
Kroda sering diartikan marah, kemarahan timbul karena pengaruh perasaan yang
jengkel, muak osan dan sebagainya. Orang yang suka marah adalah tidak baik, sebab
kemarahan menyebabkan orang menderita, dan umumnya semua orang tidak senang
dimarahi. Sebab ketemu marah terjadilah konflik yang meimbulkan ketegangan
bahkan kehancuran semata.
Orang pemarah tidak mendapat simpatik dari teman-temannya bahkan tidak disenangi
dan selalu dijauhi, justru karena itu hilangkan perasaan marah tersebut.
4. Moha
Moha artinya kebingungan, karena bingung menyebabkan pikiran menjadi gelap.
Karena kegelapan maka manusia menjadi tida sadar, dari sinilah yang mempengaruhi
kesehatan tubuh, kondisi tubuh akan menurun dan akhirnya tugas dan kewajiban tak
terselesaikan dengan semestinya.
5. Mada
Mada artinya kemabukan, minuman sangat digemari orang, minuman keras dapat
menyebabkan kita mabuk, karena mabuk pikiran orang menjadi gelap, kesadaran
menjadi hilang, dari sinilah menimbulkan prilaku yang kadang kala merugikan
dirinya sendiri, ia berkata ngawur yang menyinggung perasaan. Karenanya ia harus
dijauhi.
6. Matsarya
Matsarya artinya iri hati, perasaan iri hati ini adalah dimana perasaan tidak senang
melihan orang lain lebih dari dia, atau tidak senang melihat orang menyamai dirinya.
B. Sapta Timira
Sapta timira artinya 7 kegelapan, yang dimaksudkan dengan 7 kegelapan ini adalah 7 hal
yang menyebabkan pikiran orang menkadi gelap. Kegelapan pikiran ini, dapat
menimbulkan tingkah laku yang tidak patut dan menyimpang dari tingkah laku yang baik
dan benar.
Kegelapan yang timbul dari sapta timira yaitu,
1. surupa
2. dana
3. guna
4. kulina
5. yowana
6. sura
7. kasuran
Pengertian Hari Raya Nyepi Umat Hindu
Diringkas oleh : I P Danan Krisnadi R
Sumber : Nyepi Caka 1910. penyebaran kator departemen agama jembrana, Doktik 8 Feb 88
Penjelasan,
1. Surupa artinya kecantikan
Kebagusan atau kecantikan dibawa sejak lahir, merupakan anugrah tuhan yang
maha pengasih dan penyayang. Bagi orang yang memiliki semua ini boleh merasa
beruntung atas anugrah serta kasih sayang tuhan, namun tidaklah patut takabur
dan sombong karena punya rupa yang tampan, bagus , cantik, yang kesemua ini
bersifat maya dan tak kekal.
2. Dana artinya Kekeyaan
Kekayaan sungguh berguna bagi siapapun, setiap orang menginginkan hal itu,
karenanya orang berlomba lomba berusaha dengan berkenja keras untuk dapat
memiliki kekayaan. Namun ingat kekayaan itu anugrah tuhan, karenanya patutlah
dipergunakan dengan sebaikbaiknya.
3. Guna artinya kepandaian
Kepandaian ini mirib dengan kekayaan tersebut diatas. Hendaknya kepandaian ini
diamalkan untuk kesejahtraan orang banyak, janganlah kepandaian ini
dipergunakan untuk sewenang-wenang. Menindas orang yang lebih bodoh dan
sebagainya.
4. Kulina artinya keturunan
Memiliki arti yang penting karena dari keturunan siapa leluhurnya, ia akan dapat
dikenal siapa dirinya sebenarnya. Orang itu dipandang terhormat, disegani dapat
dipercaya , karena berasal dari keturunan orang orang yang dikenal berjasa, baik
dan sebagainya.
5. Yoana artinya masa remaja atau masa muda
Masa muda atau masa remaja ini penuh dengan kegairahan hidup, masa gemilang
penuh kreativitas, masa kekuatan dan kecerdasan sedang hebatnya
Disinilah hendaknya kita banyak berbuat baik dan berguna. Jangan berbuat hal –
hal yang kurang baik dan tercela. Jangna angkuh dan sombong karena keremajaan
ini dan harus disadari semua itu tidakkekal dan bersifa maya belaka.
6. Sura artinya Minuman Keras
Dengan minuman keras seperti Tuak, Arak + methanol, Berem, Beer dll,
menyebabkan manusia mabuk bila diminum berlebihan. Dari kemabukan inilah
syaraf2 otak akan terganggu dan kesadarannya akan hilang, justru karena itu
jauhilah minuman keras ini.
7. Kasuran artinya keberanian
Setiap orang perlu memiliki keberanian, tanpa adanya keberanian setiap orang
akan selalu merasa menderita, hidup ini adalah suatu perjuangan, karenanya
keberanian adalah penting. Keberanian disini dipergunakan untuk dapat
mengatasi liku-likunya kehidupan, seperti keberanian membela dan
mempertahankan kebenaran, orang tak layak mabuk karena keberanian.
Keberanian harus dilandasi kebenaran. Keberanian adalah untuk mebela yang
benar sesuai dengan ucapan, “ Satwam Ewan jayate na nrtam” yang artinya :
kebenaran selalu benar dan bukan kemaksyatan.
Pengertian Hari Raya Nyepi Umat Hindu
Diringkas oleh : I P Danan Krisnadi R
Sumber : Nyepi Caka 1910. penyebaran kator departemen agama jembrana, Doktik 8 Feb 88
Banyak kalangan lain di luar umat Hindu melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu
Nusantara dalam merayakan Tahun Barunya. Umat lain di hari Tahun Baru-nya merayakan
dengan kemeriahan, pesta makan – minum, pakaian baru, dan sebagainya. Umat Hindu, justru di
Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistim kalender
Hindu Nusantara, merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat
suasana sepi, Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk
menyimpulkan serta menilai Trikaya pribadi-pribadi dimasa lampau dan merencanakan Trikaya
Parisudha dimasa depan. Di hari itu pula umat mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat
pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada
hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Dengan amati pekaryan, kita mempunyai waktu yang
cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan Samadhi, dalam suasana amati gni, pikiran akan
lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi, pembatasan gerak bepergian keluar rumah
berupa amati lelungaan akan mengurung diri sendiri di suatu tempat tertentu untuk melakukan
tapa, berata, yoga, samadhi. Tempat itu bisa dirumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu
saja dalam prosesi itu kita wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang
menyenangkan yang dinikmati melalui panca indria. Kemampuan mengendalikan Panca Indria
adalah dasar utama dalam mengendalikan Kayika, Wacika dan Manacika sehingga jika sudah
terbiasa maka akan memudahkan pelaksanaan Tapa Yadnya. Walaupun tidak dengan tegas
dinyatakan, pada Hari Nyepi seharusnya kita melakukan Upawasa atau berpuasa menurut
kemampuan masing-masing. Setelah Nyepi, diharapkan kita sudah mempunyai nilai tertentu
dalam evaluasi kiprah masa lalu dan rencana bentuk kehidupan selanjutnya yang mengacu pada
menutup kekurangan-kekurangan nilai dan meningkatkan kwalitas beragama. Demikianlah tahun
demi tahun berlalu sehingga semakin lama kita umat Hindu akan semakin mengerti pada hakekat
kehidupan di dunia, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang dharma, dan menjauhkan halhal
yang bersifat adharma. Hari Raya Nyepi dan hari-hari Raya umat Hindu lainnya merupakan
tonggak-tonggak peringatan penyadaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut
datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi
lebih banyak pada segi tattwa atau falsafahnya. Seandainya mayoritas umat Hindu Nusantara
menyadari hal ini, pastilah masyarakat yang Satyam, Siwam, Sundaram akan dapat tercapai
dengan mudah.
Kelemahan tradisi beragama umat Hindu khususnya yang tinggal di Bali, adalah terlalu
banyak berkutat pada segi-segi Ritual (Upacara) sehingga segi-segi Tattwa dan Susila kurang
diperhatikan. Tidak sedikit dari mereka merasa sudah melaksanakan ajaran Agama hanya dengan
melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya saja. Salah satu segi Tattwa yang kurang
diperhatikan misalnya mewujudkan Trihitakarana. Perkataan ini sering menjadi selogan yang
populer, diucapkan oleh berbagai tokoh dengan gempita tanpa menghayati makna dan
aplikasinya yang riil di kehidupan sehari-hari. Trihitakarana, tiga hal yang mewujudkan
kebaikan, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Hyang Widhi (Pariangan),
keharmonisan hubungan manusia sesama manusia (Pawongan) dan keharmonisan hubungan
manusia dengan alam (Palemahan). Trihitakarana bertitik sentral pada manusia, dengan kata lain
Trihitakarana bisa terwujud jika manusia mempunyai tekad yang kuat melaksana-kannya. Tekad
yang kuat harus disertai dengan pengertian yang mendalam dan kebersamaan sesama umat
manusia. Trihitakarana tidak bisa diwujudkan hanya oleh seorang diri atau sekelompok orang
saja. Itu harus dilakukan bersama-sama oleh semua manusia, bahkan manusia beragama apapun.
Manusia yang pendakian spiritualnya cukup akan mencintai Tuhan (Hyang Widhi). Cinta
kepada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas disebut “Bhakti”. Ruang lingkup ini misalnya :
Pengertian Hari Raya Nyepi Umat Hindu
Diringkas oleh : I P Danan Krisnadi R
Sumber : Nyepi Caka 1910. penyebaran kator departemen agama jembrana, Doktik 8 Feb 88
Bhakti kepada Tuhan, negara, bangsa, rakyat, dll. Tinjuan khusus tentang bhakti kepada Hyang
Widhi, wujudnya adalah kasih sayang kepada semua ciptaan-Nya yaitu mahluk hidup : manusia,
binatang dan tumbuh-tumbuhan; demikian pula kepada ciptaan-Nya yang lain misalnya alam
semesta. Seseorang yang mengaku sebagai “Bhakta” (orang yang berbhakti) tidaklah tepat jika ia
menunjukkan bhaktinya itu kepada Hyang Widhi hanya dalam bentuk berbagai ritual saja. Ia
juga harus mewujudkan cinta dan kasih sayang kepada semua mahluk, khususnya kepada sesama
manusia. Rasa kasih sayang kepada sesama manusia hendaknya benar-benar datang dari hati
nurani yang bersih dan tulus tanpa keinginan mendapat balas jasa atau imbalan dalam bentuk
apapun. Filsafat Tattwamasi merupakan panduan yang bagus kearah ini.
Masyarakat yang individu-individunya telah mampu melaksanakan ajaran Agama dengan
baik akan mewujudkan keadaan yang disebut sebagai Satyam, Siwam, Sundaram, yakni
masyarakat yang saling menyayangi sesamanya, kebersamaan yang harmonis dan dinamis,
berkeimanan yang kuat dan sejahtera lahir-bathin. Manusia dalam upayanya mencapai kehidupan
satyam, siwam, sundaram tidaklah dapat berdiri sendiri-sendiri. Ia memerlukan berbagai
hubungan yang harmonis dengan manusia lain, atau jelasnya, manusia membutuhkan kelompok
tertentu yang sehaluan dalam pemahaman keimanan, kepentingan politik, kepentingan ekonomi,
kepentingan sosial, dan kepentingan budaya. Prinsip-prinsip jalinan hubungan yang harmonis itu
sebagaimana bunyi slogan : “Sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sampranaya,
saling asah, saling asih, saling asuh” Artinya : bersatu-padu menyusun kekuatan menghadapi
ancaman/bahaya, memutuskan sesuatu secara musyawarah mufakat, saling mengingatkan, saling
menyayangi dan saling membantu. Slogan ini bersifat dinamis, dapat digunakan baik dalam
lingkungan kecil seperti rumah tangga, maupun dalam lingkungan yang lebih besar seperti
Paguyuban, Banjar, dan Desa, bahkan dalam lingkungan Nusantara dan Internasional. Untuk
lingkungan yang lebih luas seperti Nusantara dan Internasional kepentingan yang disatukan
biasanya menyangkut ideologi misalnya bidang keimanan/ Agama dan Politik. Azas-azas
kebersamaan sebagai umat Hindu dapat dikembangkan seluas-luasnya karena akan bermanfaat
bagi peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan. Kebersamaan itu pula dapat sebagai benteng
yang melindungi, mengayomi umat sedharma dari ancaman-ancaman pihak lain dalam bentuk
proselitasi (mempengaruhi orang yang sudah memeluk Agama tertentu beralih ke Agama lain).
Kebersamaan dalam bentuk paguyuban berguna sebagai wadah demokrasi karena konsep
“Paras-paros sampranaya” dijalankan. Ini akan membentuk tatanan kehidupan yang moderat
dimana terjadi brainsforming dalam memutuskan sesuatu demi kepentingan bersama. Sejarah
dunia telah membuktikan bahwa perjuangan dalam bentuk apapun hanya akan berhasil jika
dilakukan dengan kesadaran kebersamaan yang hakiki diantara kelompok pejuang. Demikian
pula hal yang patut dilakukan oleh umat Hindu dewasa ini, jalinan kebersamaan hendaknya
makin diperluas mencapai tahap internasional agar dapat memberikan manfaat yang tinggi bagi
kemajuan umat Hindu.
Demikianlah sebagai kesimpulan terakhir melaui brata penyepian hendaknya kita bisa
mengendalikan diri, bisa mengekan hawa nafsu yang bersumber pada diri kita sendiri yang
berasal dari Sad Ripu dan Sapta Timira. Demikianlah semoga bermanfaat.
Kamis, 04 Juni 2009
Panca Sradha Dalam Konsep Ketuhanan menurut Agama Hindu
Dalam ajaran agama Hindu, Tatwa juga termasuk salah satu kepercayaan. Kepercayaan juga dikenal dengan istilah “Sradha” yang berarti keimanan,keyakinan,kepercayaan. Ada lima macam keyakinan dalam Agama Hindu yang disebut dengan “Panca Sradha”.Panca Sradha, yang berarti lima macam keyakinan/ kepercayaan atau keimanan yang harus dipedomani oleh setiap umat hindu dalam hidup dan kehidupannya.Panca Sradha tersebut terdiri dari :
1. Percaya dengan adanya Tuhan/Brahman (Widhi Sraddha).
2. Percaya dengan adanya atma (Atma Sraddha).
3. Percaya dengan adanya Hukum Karma Phala(Karmaphala Sraddha).
4. Percaya dengan adanya Punarbhawa/Samsara(Punarbhawa Sraddha).
5. Percaya dengan adanya Moksa(Moksa Sraddha).
Usaha untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama Hindu kelima macam kepercayaan itu mutlak perlu kita yakini. Akan menjadi sempurna apabila penghayatan dan pengamalannya dilandasi dengan cubhakarma (ethika) dan yadnya (ketulusan berkorban).
Percaya dengan adanya Tuhan/brahman (Widhi Sraddha).
Widhi Tatwa yang merupakan salah satu bagian dari panca saradha, yang menyatakan bahwa umat Hindu percaya dan yakin dengan adanya Tuhan, hal ini dapat di yakini dengan melalui cara-cara yang di sebut Tri Pramana yang berarti tiga cara atau jalan untuk memperoleh pengetahuan,atau cara bagaimana umat Hindu menjadi tahu tentang adanya sesuatu, dalah hal ini yaitu Brahman atau Tuhan.Ada pun bagian dari Tri Pramana adalah :
- Kepercayaan Umat Hundu terhadap adanya Brahman didasarkan pada kenyataan, Dinana para maharesi secara nyata dan jelas dapat menerima dan mendengar wahyu Tuhan, orang suci atau maharesi langsung menerima wahyu Tuhan yang di sebut sebagai Pratyaksa Pramana.
- Kepercayaan Umat Hundu terhadap adanya Brahman didasarkan pada logika atau gejala alam atau rahasia alam yang tidak dapat terpecahkan oleh manusia. Maka berdasarkan logika pasti ada penyebab atau sumber dari gejala keanehan alam raya ini,prnyebab atau sumber tersebut tiada lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Hal inilah yang di sebut sebagai Anumana Pramana.
- Kepercayaan Umat Hundu terhadap adanya Brahman didasarkan pada pemberitahuan orang lain yang di percaya atau berdasarkan ajaran agama atau Kitab Suci Veda. Dengan dasar ajaran Agama umat Hindu percaya dengan adanya Tuhan. hal ini yang disebut Agama Pramana.
Ada pun sifat-sifat Brahman antara lain :
1. Sat: sebagai Maha Ada satu-satunya, tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau
Dengan kekuatanNya Brahman telah menciptakan bermacam-macam bentuk, warna, serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan dan kembali pada Tuhan bila saatnya pralaya tiba. Tidak ada satupun benda-benda alam semesta ini yang tidak bisa bersatu kembali dengan Tuhan, karena tidak ada barang atau zat lain di alam semesta ini selain Tuhan.
2. Cit: sebagai Maha Tahu
Beliaulah sumber ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan agama, tetapi sumber segala pengetahuan. Dengan pengetahuan maka dunia ini menjadi berkembang dan berevolusi, dari bentuk yang sederhana bergerak menuju bentuk yang sempurna. Dari avidya (absence of knowledge- kekurangtahuan) menuju vidya atau maha tahu.
3. Ananda
Ananda adalah kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka duka. Maya yang diciptakan Brahman menimbulkan illusi, namun tidak berpengaruh sedikitpun terhadap kebahagiaan Brahman. Pada hakikatnya semua kegembiraan, kesukaran, dan kesenangan yang ada, yang ditimbulkan oleh materi bersumber pula pada Ananda ini bersumber pula pada Ananda ini, bedanya hanya dalam tingkatan. Kebahagiaan yang paling rendah ialah berwujud kenikmatan instingtif yang dimiliki oleh binatang pada waktu menyantap makanan dan kegiatan sex. Tingkatan yang lebih tinggi ialah kesenangan yang bersifat sementara yang kemudian disusul duka. Tingkatan yang tertinggi adalah suka tan pawali duhka, kebahagian abadi, bebas dari daya tarik atau kemelekatan terhadap benda-benda duniawi.
Dalam Kitab Suci Agama Hindu mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya ada satu Beliau maha besar maha tahu dan ada dimana-mana yang menjadi sumber dari segala yang ada di alam raya ini.Tetapi dalam manisfestasinya atau perwujudannya sebagai Tri Murti, Tuhan yang hanya stu di percaya mempunyai Tiga wujud kekuatan. Tri yang berarti Tiga dan Mukti yang berarti perwujudan, Tiga kekuatan atau kebesaran itu yang di maksu adalah :
1. Tuhan sebagai maha Pencipta,dalam wujudnya sebagai pencipta Tuhan di beri nama Dewa Brahma,dikatakan sebagai maha pencipta karena Tuhanlah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, Dewa Brahma di simbolkan dengan aksara suci A (Ang)
2. Tuhan sebagai maha pemelihara, Tuhan sebagai pemelihara yang melindungi segala ciptaanNya dalam manisestasinya sebagai pemelihara Umat Hindu menyebut Tuhan sebagai Dewa Wisnu, dan disimbolkan dengan aksara suci U (ung)
3. Tuhan sebagai maha pemrelina, pemreline berasal dari kata pralina yang berarti kembali pada asalnya, pemrelina berarti mengembalikan kepada asalny yang disebut juga sebagai pelebur, Tuhan sebagai pelebur umat Hindu menyebut Tuhan sebagai Dewa Siwa,dan disimbolkan dengan aksara suci M (Mang)
Pengertian Dewa dalam Agama Hindu adalah Kata Dewa muncul dari kata Deva atau Daiwa dalam bahasa sansekerta yang berasal dari kata Div yang berarti Sinar, jadi Dewa adalah merupakan perwujudan sinar suci Tuhan Yang Maha Esa.
Disamping Tri Murti dalam agama hindu juga ada dewa dan dewi yang di percaya sebagai manispestasi dari Tuhan, seperti di bawah ini :
· Agni (Dewa api)
· Aswin (Dewa pengobatan, putera Dewa Surya)
· Candhra (Dewa bulan)
· Durgha (Dewi pelebur, istri Dewa Siva)
· Ganesha (Dewa pengetahuan, Dewa kebijaksanaan, putera Dewa Siva)
· Indra (Dewa hujan, Dewa perang, raja surga)
· Kuwera (Dewa kekayaan)
· Laksm i(Dewi kemakmuran, Dewi kesuburan, istri Dewa Visnu)
· Saraswati (Dewi pengetahuan, istri Dewa Brahma)
· Sri (Dewi pangan)
· Surya (Dewa matahari)
· Waruna (Dewa air, Dewa laut dan samudra)
· Bayu (Dewa angin)
· Yama (Dewa maut, Dewa akhirat, hakim yang mengadili roh orang mati)
Percaya dengan adanya atma (Atma Sraddha).
Dalam Agama Hindu, Atma dipandang sebagai kesadaran sejati yang merupakan hidupnya badan jasmani, dalam Upanisd dinyatakan Atman itu hakikatnya sama dengan Brahman yang dinyatakan bahwa Brahman Atman Aikyam yang artinya Brahman dan Atman itu satu adanya, Brahman adalah asas alam semesta sedangkan Atman adalah asas hidup manusia.
Dalam Bagavad Gita di jabarkan mengenai sifat – sifat atman diantaranya adalah :
· Achedya : tak terlukai oleh senjata
· Adahya : tak terbakar oleh api
· Akledya :tak terkeringkan oleh angin
· Acesyah : tak terbasahkan oleh air
· Nitya : abadi
· Sarwagatah : di mana- mana ada
· Sthanu : tak berpindah- pindah
· Acala : tak bergerak
· Sanatana : selalu sama
· Awyakta : tak dilahirkan
· Acintya : tak terpikirkan
· Awikara : tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.
Percaya dengan adanya Hukum Karma Phala(Karma Phala Sraddha).
Karmaphala terdiri dari dua kata yaitu karma dan phala, berasal dari bahasa Sanskerta. "Karma" artinya perbuatan dan "Phala" artinya buah, hasil, atau pahala. Jadi Karmaphala artinya hasil dari perbuatan seseorang. Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.Phala dari karma itu ada tiga macam yaitu:
1. Sancita Karmaphala
Phala dari perbuatan dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang.
2. Prarabda Karmaphala
Phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi.
3. Kriyamana Karmaphala
Phala perbuatan yang tidak dapat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.
Dengan pengertian tiga macam Karmaphala itu maka jelaslah, cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan hukum. Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk Surga atau masuk neraka. Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah Surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang diterimanya. Dalam pustaka- pustaka dan ceritera- ceritera keagamaan dijelaskan bahwa Surga artinya alam atas, alam suksma, alam kebahagiaan, alam yang serba indah dan serba mengenakkan. Neraka adalah alam hukuman, tempat roh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama masa hidupnya. Selesai menikmati Surga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju Moksa.
Percaya dengan adanya Punarbhawa/Samsara(Punarbhawa Sraddha).
Kata punarbhawa terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu "punar" (lagi) dan "bhawa" (menjelma). Jadi Punarbhawa ialah keyakinan terhadap kelahiran yang berulang- ulang yang disebut juga penitisan atau samsara. Dalam Pustaka suci Weda tersebut dinyatakan bahwa penjelmaan jiwatman berulang- ulang di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut samsara. Kelahirannya yang berulang- ulang ini membawa akibat suka dan duka.Punarbhawa atau samsara terjadi oleh karena jiwatman masih dipengaruhi oleh Wisaya dan Awidya sehingga kematiannya akan diikuti oleh kelahiran kembali.Segala perbuatan ini menyebabkan adanya bekas (wasana) pada jiwatma. Bekas- bekas perbuatan (karma wasana) itu ada bermacam- macam, jika yang melekat bekas- bekas keduniawian maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal- hal keduniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali.
Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa
Hukum karmaphala dan punarbhawa atau reinkarnasi mempunyai hubungan yang amat erat dan timbal balik, karmaphala merupakan hukum hasil perbuatan, bik buruknya perbuatan akan menentukan kuwalitas kelahiran manusia, demikian pula punarbhawa atau reinkarnasi akan berdampak bagi perbuatan seseorang. Dalam hal ini seseorang yang selalu berbuat baik dalam hidupnya dan bila dia meningal nanti maka rohnya akan mendapat tempat yang baik di akhirat atau di sorga. Dan bila dia lahir kembali atau berreinkarnasi lagi maka akan menjai hidup serba kecukupan dilingkungan orang baik-baik, tapi bila dalam kehidupan sekarang dia bertindak tidak baik maka setelah meninggal nanti rohnya akan masuk neraka, demikianlah subha dan asubhakarma yang menentukan hasil perbuatan atau karmaphala itu sangat mempengaruhi kehidupan jika kita mengalami punarbhawa dikelak kemudian hari.
Percaya dengan adanya Moksa(Moksa Sraddha)
Moksa merupakan bahasa sansekerta yang berarti pembebasan,kelepasan,atau kelepasan dari keterikatan benda-benda duniawi hingga mencapai bersatunya Atman dengan Brahman
Moksa adalah tujuan terakhir bagi umat Hindu. Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari- hari secara baik dan benar, misalnya dengan menjalankan sembahyang batin dengan menetapkan cipta (Dharana), memusatkan cipta (Dhyana) dan mengheningkan cipta (Semadhi), manusia berangsur- angsur akan dapat mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi ialah bebas dari segala ikatan keduniawian, untuk mencapai bersatunya Atman dengan Brahman.
Kebebasan yang sulit dicapai banyak makhluk akan lahir dan mati. serta hidup kembali tanpa kemauannya sendiri. Akan tetapi masih ada satu yang tak tampak dan kekal, tiada binasa dikala semua makhluk binasa. Nah, yang tak tampak dan kekal itulah harus menjadi tujuan utama supaya tidak lagi mengalami penjelmaan ke dunia, tetapi mencapai tempat Brahman yang tertinggi.
Jika kita selalu ingat kepada Brahman, berbuat demi Brahman maka tak usah disangsikan lagi kita akan kembali kepada Brahman. Untuk mencapai ini orang harus selalu berusaha, berbuat baik sesuai dengan ajaran agamanya. Kitab suci telah menunjukkan bagaimana caranya orang melaksanakan pelepasan dirinya dari ikatan maya agar akhirnya Atman dapat bersatu dengan Brahman (suka tan pawali duka), sehingga penderitaan dapat dikikis habis dan tidak lagi menjelma ke dunia ini sebagai hukuman, tetapi sebagai penolong sesama manusia, sebagai Awatara.
Tingkatan moksa sesuai dengan kondisi atman dalam hubungannya dengan Tuhan
- Sampya yaitu moksa yang di capai semasa masih hidup di dunia, yang dapat di capai oleh para maharesi pada waktu melaksanakan yoga samadhi, sehingga dapat menerima wahyu dari Tuhan.
- Sarupya yaitu moksa yang di capai semasa masih hidup dimana kedudukan Atman mengatasi unsur-unsur maya, misalnya Budha, Kresna, Rama, dan Awatara-awatar yang lainnya.
- Salokya yaitu moksa yang dicapai oleh Atman setelah berada dalam posisi kesadaran yang sama dengan Tuhan, tetapi belum bisa bersatu dengan Nya, dalam hal ini Atman telah mencapai tingkatan Dewa.
- Sayujya yaitu pada tahapan ini dimana Atman telah bersatu dengan Brahman, seperti apa yang disebut Brahman Atman Aikyam atau Atman dengan Brahman satu atau talah bersatu.
(diringkas oleh i made mudita)
Sumber : Drs.K.M.Suhardana,2009,Panca Saradha Lima Keyakinan Umat Hindu, Paramita,Surabaya.
Rabu, 03 Juni 2009
Dana Punia Dalam Etika Ciptakan Keseimbangan
Dana punia terdiri dari dua unsure kata yaitu “dana”, dan “punia”. Dimana Dana berarti suatu pemberian atau sumbangan, sedangkan punia berarti suci, selamat ,baik, bahagia, dan indah. Jadi dana punia
Dapat diartikan sebagai suatu pemberian atau sumbangan yang didasari oleh hati yang suci atau pemberian secara tulus iklas tanpa mengharapkan imbalan atau tanpa pamerih.
Dana punia merupakan suatu usaha untuk menjaga keseimbangan kehidupan karena pada hakikatnya dana punia merupakan penyaluran sesuatu baik itu berupa harta benda maupun yang lainnya, dari yang kelebihan menuju yang kekurangan.
Dalam Agama Hindu dana punia landasan filosofisnya adalah tat twam asi karena manusia merupakan mahluk sosial yang selalu memnutuhkan orang lain, dalam pengertiannya jika ada seseorang yang miskin dan menderita adalah juga merupakan penderitaan bagi orang yang tak menderita, maka sangt dibutuhkan suatu keseimbangan, karena suatu yang seimbang akan bertahan lama dan kelihatan lebih indah.
Dalam praktiknya di masyarakat Hindu, kegiatan dana punia biasa berlangsung pada saat atau dikaitkan dengan diselenggarakannya suatu upacara atau persembahan yajna dengan mengaturkan sesari cangang, sarin banten atau yang lainnya, demikian pula halnya pada saat digelar upacara bale pedanan yang isinya berbagai macam benda yang nantinya boleh diambil oleh siapa saja yang hadir pada saat upacara yajna tersebut.
Dana punia dalam arti luas bukan saja berupa harta banda namun labih dari itu sesuatu yang bisa didermakan jug bisa berupa bukan bend seperti au halnya ilmu pengetahuan dan bisa berupa tenaga. Ditinjau dari sudut sepritualnya pemberian dalam bentuk ilmu pengetahuan dianggap paling utama sebab dengan ilmu pengtahuan akan membimbing / menuntun jiwa manusia menuju pencerahan, dengan pencerahan akan mendapat kebenaran, dengan kebenaran ia akan mencapai suatu yang abadi atau menyatu dengn Hyang Maha Pancipta.
Jadi dengan demikian semua persembahan, pemberian, sedekah, ataupun aturan yang dilakukan oleh seseorang harusnya didasari rasa bhakti terhadap Hyang Widhi Wasa dan rasa saling mengasihi diantara sesama manusia yang dilandasi ketulusan hati tanpa pamerih guna mewujudkan keseimbangan hudup di dunia.
Berikut di jelaskan macam-macam dana punia alam sastra agama yang ditinjau dari macam-mam harta benda yang di berikan, maksud atau sifat, jenis pemberian,dan lain-lainnya :
Secara umum, Swami Wiwekanandamenggolongkan dana punia menjadi tiga yaitu :
- Arthadana yaitu dana punia berupa harta benda yang dibutuhkan.
- Widyadana yaitu dana punia berupa ilmu pengetahuan.
- Dharmadana yaitu dana punia berupa pemberian ajaran dharma Agama dan budhi pekerti yang luhur kepada orang lain.
Menurut kitab SangHyang Kahamayanikan dijelaskan dana punia sebagai berikut :
- Dana yaitu pemberian berupa harta benda kepada orang yang membutuhkan.
- Atidana yaitu pemberian anak gadis cantik.
- Mahatidana yaitu dana punia berupa pemberian dalam bentuk jiwa raga.
Dalam bagavadgita diebutkan ada tiga macam dana punia yaitu :
- Satwikadana yaitudana punia yang dikatakan putih atau baik.yakni pemberian yang dilakukan tanpa pamerih dan didasari oleh niat yang suci dan tulus kepada orang yang patut menerimanya, tempat yang sesuai, dan waktu yang tepat pula.
- Rajasikadana yaitu dana punia yang dikatakan nafsu atau merah.yaitu dana punia yang dilakukan dengan harapan untuk mendapatkan imbalan jasa atau keuntungan di kemudian hari, dengan kata lain dana punia yang dilakukan secara tidak ikhlas.
- Tamasikadana yaitu dana punia yang didasari tindak kebodohan atau dana punia hitam. Yaitu dana punia yang dilakukan pada situasi yang salah,tempat ynag salah, dan diberikan kepada yang tak patut,sertatidak mengikuti etika-etika dalam ber dana punia.
Berdasarkan etika pemberian, kitab Sarasamuscaya membagi dana punia menjadi :
1. Uttamadana yaitu dana punia yang dilakukan secara hormat dan menghargai penerima,dan dilakukan dengan ikhlas dan hati yang suci, sesuai kehendak hatinya tanpa diminta sebelumnya
2. Madhyadana yaitu dana punia yang dilakukan secara baik namun karena atas permintaan dan bukan keluar dari niat atau kehendak dari pemberi.
3. Nistadana yaitu dana punia yang di berikan dalam kedan marah atau terpaksa tidak menghargai orang lain dan tidak dilakukan secara tulus.
Berdasarkan waktu pemberian, dalam sarasamuscaya, dana punia dikelompokkan menjadi :
1. Uttarayana dana yaitu dana punia yang diberikan pada saat matahari berada di belahan bumi utara.
2. Daksinayana dana yaitu dana punia yang diberikan pada saat matahari berada pada belahan bumi selatan.
3. Sadacitimukha dana yaitu dana punia yang diberikan pada saat terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan.
4. Wisukala dana yaitu dana punia yang diberikan pada saat matahari berada tepat di tengah-tengah bumi atau berada di posisi garis katulistiwa.
Berdasarkan jenis pemberian dana punia, dalam sarasamuscaya dana punia dapat di bedakan menjadi :
1. Dana punia desa yaitu pemberian berupa tempat, desa atau lahan yang digunakan untuk kepentingan umum.
2. Dana puni Agama yaitu dana punia yang berupa ajaran Agama, ilmu pengetahuan dan yang lainnya yang menyababkan orang lain menjadi lebih pintar dan memiliki budhi pekerti yang luhur.
3. Dana punia drewya yaitu dana punia yang berupa harta benda yang menjadi kebutuhan.
Berdasarkan jenis harta yang di berikan, dalam kitab purana dapat dibedakan menjadi :
- Godana: dana punia yang berupa seekor sapi dan anaknya kepada brahmana.
- Vrasabha dana: dana punia berupa seekor sapi jantan.
- Mahisi dana: dana punia berupa seekor sapi betina yang menghasilkan susu.
- Bumi dana: dana punia berupa tanah.
- Halapamkti dana: dana punia berupa cangkul yang dihiasi emas dan empat puluh ekor sapi.
- Apaka dana: dana punia berupa seribu jenis peralatan.
- Anna dana: dana punia berupa makanan.
- Graha dana: dana punia berupa sebuah ruangan yang telah dihias.
- Sthali dana: dana punia berupa piringan perak yang berisi penuh makanan dan benda lainnya.
- Sayya dana: dana punia berupa tempat tidur yang diberikan kepada seorang brahmana.
- Prapa dana: dana punia berupa pembuatan tempat air untuk umum.
- Anisikala dana: dana punia berupa api yang di gunakan untuk menghangatkan badan pada waktu musim dingin.
- Dasi dana: dana punia berupa seorang pelayan kepada seorang brahmana.
- Widya dana: dana punia berupa ilmu pengetahuan dan alat-alat penunjangn ilmu pengetahuan.
- Hiranyagarbha dana: dana punia berupa makanan kepada orang kelaparan dan sebuah patung Dewa kepada brahmana.
- Brahmanda dana: dana punia berupa telur buatan yang didalamnya berisi patung Brahma,Wisnu,Siwa dan diberikan kepada brahmana.
- Kalpavraska dana: dana punia berupa pohon kecil beserta buahnya yang terbuat dari emas yang diberikan kepada brahmana.
- Saptasagara dana: dana punia berupa garam,susu,gula dal liannya diberikan kepada brahmana.
- Dhanyaparwata dana: dana punia berupa setumpukan bahan makanan,minyak,emas,dan lainnya yang diberikan pada brahmana.
- Tulapurusa dana: dana puia berupa bahan makanan dan emas yang beratnya sama dengan berat pemberi, kemudian diberikan pada brahmana dan orang yang memerlukan.
Dalam Panca Maha Yajna dana punia dapat dibedakan menjadi lima yang diidentikkan dengan yajna atau persembahan suci yaitu:
- Drewya dana aturan punia yang berupa harta benda.
- Tapa yajna yaitu pemberian atau amal dalam bentuk pengendalian diri atau tri kaya parisudha dalam suatu persembahyangan yajan.
3. Yoga yajan persembahan berupa kemampuan mengkosentrasikan dan memusatkan pikiran kehadapan Hyang Widhi Wasa dan melaksanakan samadhi.
- Jnana yajna pemberian berupa pengetahuan baik pengetahuan teknologi maupun pengetahuan Agama.
- Swadya yajna yaitu persembahan jiwa dan raga, dalam hal ini persembahan tenaga dan pikiran dalam suatu upacara yajna, dalam masyarakat Bali sering disebut dengan ” Ngayah Aji Tuyuh ” artinya mempersembahkan tenaga dalam upacara yajna.
Secara lebih umum dana punia dapat digolongkan menjadi :
- Artha dana pemberian berupa harta benda baik berupa makanan,minuman,pakaian,rumah,tanah,dan lain-lain.
- Abhaya dana pemberian berupa perlindungan,rasa aman dan ketertiban kepada orang lain atau masyarakat.
- Brahma dana pemberian berupa ilmu pengetahuan, baik itu berupa ilmu pengetahuan teknologi, maupun ilmupengetahuan Agama.
(diringkas oleh i made mudita)
Sumber : ( I Nyoman Kaduk Supatra,2005, Dana Punia Jalan Menuju Tuhan,Pustaka Bali Post,Denpasar )
Caru Palemahan Dan Sasih Dalam Agama Hindu Di Bali
pada hari kajeng kaliwonny pada bulan mati, pada setiap pintu pekarangan umat
Secara umum caru sendiri dapat diartikan sebagai bagus, cantik, harmonis, mecaru dimaksudkan adalah untuk mempercantik, mempebagus dan mengharmoniskan. Yang dimaksud mengharmoniskan disini adalah tergantung dari objeknya, kalau caru itu caru palemahan maka yang di harmoniskan adalah palemahan, dan kalau carunya caru sasih maka yang di harminiskan adalah waktu dan musim atau masa. Sedangkan secara khusus caru dapat dikaitkan dengan sarana upakaranya, caru sebagai sarana berarti ”sega” atau nasi dalam segala bentuknya, ada yang berbentuk cacah, kepelan, dan berbentuk tumpeng kecil-kecil atau ”dananan” yang dilengkapi dengan lauk pauk, umumnya dari bumbu seperti bawang, jahe, garam dan lainnya.juga daging ”jejeron”
Kaitan caru dengan bhuta yadnya adalah bhuta yadnya berasal dari dua kata yaitu bhuta yang berasal dari kata bhu yang berarti ada, atau yang telah diciptakan yaitu alam semesta beserta dengan isinya baik itu yang berwujud nyata maupun yang berwujud tidak nyata (astral). Sedangkan yadnya berasal dari urat kata yad yang berarti berkorban jadi bhuta yadnya berarti korban kepada para bhuata, umumnya korban itu berupa ”bebali” yaitu upakara yang berupa nasi / sega serta minuman yang mengandung alkohol. Bebali ini biasa disebut caru. Jadi dengan diberikan carupara bhuta menjadi puas dengan demikian maka terwujudlah keharmonisan.
Jenis caru menurut objeknya dapat di bedakan menjadi tiga yaitu
1. Caru untuk mengharmoniskan bhumi atau alam sekitar dengan lingkungannya yang disebut ”bhumi suddha”.
2. Caru untuk menyeimbangkan ruangan dan waktu yang disebut caru sasih.
3. Caru untuk mengharmoniskan prilaku manusia atas pengaruh kelahiran yang disebut caru oton
Korban yang paling terkecil yang di persembahkan biasanya berupa nasi yang berisi bawang, jahe, terasi, arang, daging ”jejeroan” yang disebut ”segehan” yang menggunakan api takep dan menggunakan tetabuhan berupa air, tuak dan arak. Sesuai dengan jenis dan bentuk nasinya maka segehan terdiri dari : segehan cacahan, segehan kepelan, segehan mancewarna, dan segehan agung. Sedangkan korban yang bentuknya lebih sedang disebut yaitu gelar sanga yang biasanya mengikuti sorohan bebangkit.
Caru palemahan adalah upacara untuk mengharmoniskan ”areal peratalan” atau ”Wilayah”, yang dimaksud aeal atau wilayah adalah wilayah hunian manusia,binatang,tumbuh-tumbuhan, bahkan sampai areal yang disthanai para Dewa-Dewi yang dikenal parhyangan. Caru palemahan tersebut dilaksanakan baik secara rutin maupun insientil. Secara rutin maksudnya dilakukan menurut jangka waktu tertentu yang tetap dilaksanakan pada kurun waktu tertentu, sedangkan secara insidentil maksudnya mengembalikan keseimbangan magic akibat adanya sesuatu yang tidak wajar. Misalnya ada orang yang melakukan ”salah tmpah” seperti mengadakan hubungan sek dengan binatang,saudara kandung,anak kandung atau dengan ibu, aau jga telah terjadi perkelahian di pura sampai keluar darah, serta kemalingan di daerah pura.
Bentuk caru palemahan kepada para bhuta yang tergolong sedang disebuta caru, pada tingkatan ini tergolong aneka jenis caru seperti :
- Caru eka sato biasanya untuk mengharmoniskn pekarangan yang terdiri atas :
Ø Caru karang panas, karang panas adalah karang yang slalu menimbulkan penyakit, serta penghuni juga sering merasa bingung dan selalu berkelahi maka perlu di carui dengan cara pamanggihan sarana upacaranya : mendirikan sanggah tutuwan di halaman rumah ,pada snggah itu si haturkan ”banjotan akelan”,canang lengewangi burat wangi, dan canang gantal. Di bawah sanggah tutuwan caru dengan pitik bulu sikep, sate lembat,asem, calon dijadikan 33 tanding,lalu dilengkapi daksina,tumpeng dananan 33,ditambh penyeneng,lis,nasi owan,dan tepung tawar. Mohon tirta dipura puseh dan pura desa dengan banten sode,perasdaksina. Dihalaman tempat caru eka sato ,berupa olahan ayam putih denganbayang-bayangnya yang dialasi songkwi,menjadi 5 tanding serta datengan,daksina,penyeneng dan canang. Di hulu datengan tadi dan banjotan akelan setelah pryascita. Setelah selesai caru di tanam di perempatan jalan. Mendirikan sebuah sanggah cucuk dengan perlengkapannya.
Ø Caru karang panas kageringan, keadaan ini mengakibatkan sakit tak berhenti sehingga menimbulkan kematian,dan hewannya juga selalu kena grubug sehingga perlu dicarui dengan sarana : Tumpeng putih,daging ayam yang dipolakan sesuai dengan urip hari berupa sate calon yang dimask sebelah,dilengkapi dengan rumah gile, di jadikan 5 tanding. Suruh putih ijo,kelanan, peras, penyeneng, lis, uang kepeng 225. selembar lontar yang di tulis yang kemudian akan ditanam di halaman, serta mendirikan sanggah cucuk lengkap dengan sarananya.
Ø Caru pengeruak bhuvana yaitu caru yang dilakukan sebelum kita mendirikan sebuah banguna dengan sarana : seekor ayam brumbun di kuliti dagingnya di olah menjadi urab merah dan putih sate asem ditanding 33tanding. Penek nasi pancawarna di buat sesuai urip mata angin. Kulit bayang-bayang dialasi songkwi 33 lembar ditaruh di tengah.serta snggah cucuk lengkap dengan sarananya.
Ø Caru ayam brumbun, caru ini biasanya menyertai piodalan di sanggah pamrajan yang tergolong menengah. Sarananya : sama seperti caru pengeruak tetapi caru ini menggunakan ayam brumbun dan diolah hanya menjadi satu unit yang banyaknya 8 tanding.serta 1 unit soroha bayuan,dilengkapi dengant tulud,sapu,dan kentongan dari bambu.disertai pula api takep.
Ø Caru ayam biying,caru ini digunakan untuk ”nyeheb api” yang disebut ”Nyeheb Brahma” biasanya dilakukan setelah nagben, yang menggunakan ayam biying dengan urip 9 perlengkapan sama seperti caru eka sato.
- Caru manca warna yaitu caru yang menggunakan 5 ekor ayam dengan maing-masing warananya.
- Caru panca sato yaitu caru yang menggunakan 5 ekor ayam yang sesuai dengan penjuru mata angin serta ditambah dengan ”meri belang kalung”.yang digunakan untuk membersihkan pekarangan rumah yang dilakukan 5 tahun sekali, serta merubu-rebu setelah adanya kecuntakan dan bila terjadi sesuatu yang tidak wajar.
- Caru panca sanak, caru yang sama seperti yang tadi cuman ditambahkan dengan ”anjing belang bungkem”.yang bisa juga dipergunakan untuk menyertai ”upacara pangrsiganan”.
- Caru panca sanak madurga yaitu caru yang sama dangan diatas tapi ditambahkan berupa kucit selem butuhan(babi plon).caru ini biasa digunakan pada saat ”penakluk mrana” yang di laksanakan di pamangkalan desa yang maksudnya adalah di perbatasan desa bagian selatan. Pada batas ini dibuat ”rangkaian bung poling” yang sejenis ranjau yang runcingnya menghadap ke bawah, dan sungga poling ini juga di buat di masing-masing ” angkul-angkul” atau pintu pekarngan. Dengan maksud agar mendapat keselamatan dan terhindar dari gangguan.
- Ctaru manca sanak ditambah dengan mensthanakan Dewa Gana maka disebut caru ”ngeresigana” yang merupakan peralihan dari caru sedang ke caru yang besar.
Caru tergolong besar seperti Tawur dimana yang termasuk tawur adaah
- ”menceklud” yaitu caru yang dasarnya adalah manca sanak di tambah dengan angsa dan kambing dan membuat nasi tawur sebagai simbol untuk membersihkan bhumi kita ini.
- ”malik sumpah” merupakan caru yang dasarnya juga panca sanak dengan ditambah disamping angasdan kambing juga seekor ”godel merah” caru ini juga menggunakan nasi tawur.
- Jika jenis caru diatas menggunakan sarana kerbau maka tawur itu disebut ”labuh gentuh” atau ”tawur agung”. Dan tingkatan yang lebih besar lagi yaitu tawur panca walikrama, tawur tribhuvana, eka bhuvana, eka dasa ludra dimana dalam tingkatan ini yang wjib muput adalah Tri Sadhaka yaitu Resi, Bujangga Vaisnava, Padanda.
Caru sasih adalah caru yang dilakukan untuk mengharmoniskan alam berserta lingkungan berdasarkan sasih, dimana sasih artinya bulan atau masa. Dengan tujuan supaya sasih-sasih tersebut memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupan manusia.
Jenis-jenis caru sasih antara lain :
1. Caru sasih kasa (Srawana). Pada sasih kasa patut dilaksanakan pecaruan dengan sarana : pada masing-masing angkul-angkul di sebelah kiri patut mendirikan sanggah cucuk, pada snggah cucuk munggah “tumpeng tri warna”dengan warna bunga tri warna, lauknya jatah dan sate ayam putih kuning yang olahannya dijadikan 3 tanding,dibawah sanggah cucuk segehan 5 tanding, pada saat menghaturkan sebut “bhuta bregala”.
2. Caru sasih karo, sarana yang dipakai seperti : pada masing-masing angkul-angkul di sebelah kiri mendirikan sanggah cucuk. Kemudian ngunggahang canang genten 2 tanding,lanjaran 2 katih,dagingnya sate babi sate lembat 2,sate calon 2 katih,di gantungi sujang berisi tuak dan arak,mekober kasa,di bawah segehan cacah dengan api takep,sebutannya sang bhuta amangku rat.
3. Caru sasih ka tiga, menggunakan sarana seperti : mendirikan sanggah cucuk pada masing-masing angkul-angkul di sebelah kiri,beserta tipat mancawarna,raka-raka,canang 5 tanding,dagingnya palem udang dan gerih kepiting,dibawah segehan 5 tanding tetabuhan tuak,arak,dan api takep, persembahan memanggil sangkala prayogi.
4. Caru sasih kapat, dengan sarana seperti : sanggah cucuk di kiri angkul-angkul,dengan tumpeng dinanan kuning,kawangen 2 buah,canang genten 5 tanding,lanjaran menyan 2 katih,dagingnya ayam putih diolah menjadi 5 tanding dilengkapi raka-raka,plawenya menggunakan daun bingin,sujang beri tuak dan arak,dibawah segehan 5 tanding bertabuh tuak raka,mempersembahkan panggil sang kala wigraha bhumi.
5. Caru sasih ka lima,dengan sarana seperti : dengan sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,dengan banten punjung 2,raka,canang 2,tuak 2 tekor,daging ulam wabi diolah menjadi urab merah dan putih, sate lembat dan asem,di bawah segehan 5 tanding,tabuhan tuak,arakdan toya,api takep,mempersembahkan panggil sang kala mangsa.
6. Caru sasih ka nem, denan sarana seperti : sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,tmpeng ireng 1 dananan,raka pisang malablab,canang 2,dagingnya ayam hitam diolah menjadi urab bang putih,sate lembat dan calon,di bawah segehan 5 tanding dengan dagingnya jeroan babi mentah,darah 1 tekor,tetabuh tuak,arak,air dan api takep,mempersembahkan panggil sang kala smayapati.
7. Caru sasih ka pitu,dengan sarana seperti : sangah cucuk di sebelah kiri angkul-ngkul, dengan tumpeng bang dananan,raka-raka,canang apasang,dagingnya sate ayam wiring dan olahan urab bang putih,di bawah segehan 5 tanding,didepan sanggah kemulan mempersembahkan nasi punjuangan1,daging jatah babai akarang,mesate 5 katih,segehan 5 tanding,dagingnya lawar babi,tuak 1 tapan,tetabuh tuak,arak, dan air, mempersembahkan memanggil sang kala ngadang samaya.
8. Caru sasih ka wulu, dengan sarana seperti : sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,pada sanggah cucuk nguggahang nasi takelan,sujang dengan tuak,arak,ulam taluh bekasem,tumpeng 5 bungkul bertempat daun telunjungan,geti-geti,biyu batu,canang 1 pasang,ulam rumbah gile,kakumbuk kacang,calon agung5,tabuhan tuak, arak, dan toya,mempersembahkan memanggil sang kala dengen.
9. Caru sasih ka sanga, dengan sarana seperti : sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,nasi telompokn maulam taloh madadar,sujang tuak,arak magantung,raka-raka,di bawah peras penyeneng,segehan5 tanding, tetabuhan tauk,arak dan air,mempersembahkan memenggil sang kala rogha.
10. Caru sasi ka dasa, dengan sarana seperti : sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,mungah unjung1,raka-raka,ulam danging babi diolah menjadi urab merah putih,sate lmbat 1,calon,dibawah segehan 5 tanding,tetabuhan tuak, arak, dan air,serta api takep,mempersembahkan memanggil sang kala wijaya.
11. Caru sasih dyestha,dengan sarana seperti : sangah cucuk d sebelah kiri angkul-angkul,mempersembahkan penek putih 1,dananan,jatah ayam sebulu-bulu,urab bang putih,sate lembat 1,sayur pepes makukus 1 tanding,di bawah segehan 5 tanding,tetabuh tuak,arak,dan api takep,mempersembahkan dengan memanggl sang kala solog.
12. Caru sasih asadha, dengan sarana seperti : sangah cucuk disebelah kiri angkul-angkul,mempersembahkan tumpeng putih 1,dananan,raka-raka,ulam ayam putih,kelembar rumbah gile,di bawah segehan menurut urip dina angkepan,maulam lawar,tetabuhan berupa tuak,arak dan air,dan api takep,mempersembahkan dengan memanggil sang kala bhanaspati.
(diringkas oleh i made mudita)
.jpg)